Seperti Apa Kebahagiaan dan Cinta Itu?

Seperti Apa Kebahagiaan dan Cinta Itu?

TALAMUS, Takalar – Berbahagialah mereka yang pernah mengecap rasa rindu, memendam benci dan terbelenggu cinta. Sebab, rasa itu adalah mahakarya indah yang hanya bertahta dalam relung hati manusia.

Dengan hati dan rasa, mereka akan paham arti dari kebahagiaan serta kesedihan. Baginya, sedih adalah katalis dari bahagia itu sendiri, sehingga cinta adalah konklusi dari argumen rasa sedih dan bahagia

Kebahagiaan hanya akan terengkuh setelah melewati labirin dunia kesedihan, tentunya tak banyak yang berhasil melaluinya. Kecuali Orang-orang yang mampu memaknai cinta, mereka akan merasakan indahnya hidup, meski rasa dari cinta itu tak berjalan seperti inginnya.

Dia lebih memilih merenung dan tersenyum dalam kesendirian, pikirannya sederhana karena memaknai cinta secara mendalam. Menurutnya, Cinta adalah kerinduan mahluk dengan pencipta, kemudian Hati dan lisannya pun  akan selalu memuji RabbNya sebagai pemilik dari rasa cinta itu

Hari-hari akan terus berlalu, falsafah cinta manusia akan terus menggema, anak manusia akan lahir dan wafat dengan cerita cinta masing-masing. Waktu berganti, peradaban bergeser, catatan sejarah terus berulang

Kisah-kisah pecinta pun silih berganti, ada yang merana sedih lalu menjadi pengutuk cinta seumur hidupnya, atau bahagia dan memuji cinta sebagai takdirnya. Sejatinya kedua hal itu cuma tentang rasa, tergantung cara mereka berpikir, berprasangka kemudian menjalaninya.

Manusia akan selalu ada digaris simpang pilihan, Ia berhak memilih diatas jalan kebahagiaan atau terhenti diatas derita tanpa akhir. Namun, Hanya sedikit yang akan sampai dan memahami jika rasa kebahagiaan dan cinta yang dimilikinya sejak lahir adalah karunia terindah menuju keabadian.

Sungguh hanya mereka yang memaknai kebahagiaan hidup dengan harga diri tinggi yang bisa memberi cinta dan rasa hormat secara bertanggung jawab untuk diri dan orang lain

Pecinta sejati akan merasakan hari indah, dengan senyum merona diwaktu fajar dan senyum manis dikala senja. Ia mampu menyembunyikan lara dan duka dibalik cerah wajahnya.

Dia sang pemimpin dan pengungkap rahasia semesta, yang tak merisaukan fisika dan metafisika. Ia telah menyatu dengan kebijaksanaan dan kebermaknaan hidup itu sendiri. (Abdillah)